Spread the love

Bigger welcome. Hello cool reader! welcome back to roniswahid.com.

Memasuki tahun 2019, fenomena resolusi menjadi bagian yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Status sosial juga banyak membantu mengangkat hal ini. Ada yang ingin hijrah, ada yang ingin menikah, ada yang ingin lulus kuliah, ada yang ingin menambah penghasilan, ada yang ingin fokus ngejar karir, ada yang ingin manjat sosial, bahkan ada juga yang mengatakan “ada-ada saja kamu, Ron.”

Awal tahun ini, saya membagi reosulusi itu menjadi trobosan-trobosan kecil, menengah dan besar. Dalam waktu dekat, saya berusaha untuk menerobos kebosanan dan juga kejenuhan. Keinginan ini didasari oleh diskusi dengan seorang wanita. Doi menyatakan bahwa sebelum melakukan trobosan, saya  harus terlebih dahulu mencari sumber semangat. Uniknya, dalam pencarian itu saya justru menyadari bahwa dialah sumber semangat. Cakep!

Kabar baiknya semangat itupun menyebar ke pelbagai arah. Termasuk kegiatan untuk review film lagi. Dan film yang saya pilih kali ini adalah “Preman Pensiun”. Sebuah film cerita serial yang diangkat ke layar lebar. Ketika itu, film ini berhasil ikut menjadi inspirasi agar preman tobat. Salut!

“Anak buah bisa jadi bekas anak buah. Tetapi Keluarga tidak bisa jadi bekas keluarga.”  Muslihat

Sudah saya katakan sebelumnya, saat ini trobosan menjadi bagian yang sangat penting. Jujur, saya sangat suka trobosan yang dimuculkan di film “preman pensiun”. Di sini saya akan sedikit bercerita tentang trobosan-trobosan itu. Dan teman-teman bisa merasakan itu di tanggal 17 Januari 2019 di bioskop terdekat.hehe

Film Preman pensiun ditulis dan disutradarai oleh Aris Nugraha. Film yang tiga tahun lalu sangat booming ini, ketika diangkat kembali ke layar lebar masih cukup asik untuk diikuti. Ditambah lagi gaya dialog yang nyambung perscene ini mengingatkan saya pada puisi berantai. Secara pribadi saya merasa terkesan apalagi gaya dialog itu terus diperankan konsisten hingga akhir. Terasa sekali kerja keras penulis skenarionya.

Menilik lebih dalam, Film preman pensiun bercerita tentang kang Mus (evy kusnandar) yang diberi tanggung jawab besar setelah Kang Bahar (Didi Petet) tiada. Tanggung jawab itu diterima dengan perasaan penuh haru oleh Kang Mus. Film yang bercerita tentang kekeluargaan para preman yang sudah pensiun ini dikemas dengan komedi yang sangat cocok dan asik untuk dinikmati.

Meski film ini mengangkat kisah preman, film ini juga mengajarkan kepada kita tentang manis budi yang biasa dilakukan oleh orang-orang sunda. Belum lagi, ada bonus berupa guyonan-guyonan yang disajikan ditiap secene. Dari kesemua itu, yang paling berkesan adalah ketika Kang Pipit (Ica Iga) dan Kang Murad (Deny Firdaus) muncul, penonton pasti auto ketawa. Tak kalah dari itu, dialog antara Mang UU ()Mang UU dan Gobang (Dedi Moch Jamasari) sangat tepat untuk porsi komedi kekinian.

Sebaliknya, adegan dimana hubungan cinta yang dialami anak Kang Mus yaitu Savira (Savira Maharani) dan Rendi terus terngiang di dalam pikiran. Mereka berdua memiliki kesan yang cukup untuk kita berpikir, bisa gitu yah.

Tak kalah menarik, keluarga salah satu anak Buah Kang Mus yaitu Dikdid (Andra Manihot) terus dicurigai selingkuh oleh Imas istrinya (Soraya Rasyid). Kehadiran adegan Imas dan Dikdik mampu membuat kita gregetan sebagai lak-laki. Sempat terpikir ingin rasanya punya istri yang sedikit cembuaran.Hehehe

Baiknya, walaupaun teman-teman tidak menonton sinetronnya, teman-teman bisa juga merasakan feel dari film ini. Dan yang paling saya suka adalah instrumen musik yang dibawa film ini begitu khas. Rasanya ketika film ini booming tiga tahun dulu, saya dan teman-teman bangga menggunakan instrumen musiknya untuk nada ringtone panggilan masuk.

Diketahui, film preman pensiun ini berlatar di bandung. Ketika press conference, ada cerita menarik pada saat syuting, hal ini terjadi ketika pengambilan gambar, adegan banyak diganggu dengan suara tonggeret. Sebagai orang yang pernah tinggal di lingkunagan yang banyak tonggeretnya, saya membayangkan pasti itu menjadi hambatan yang cukup merepotkan. Beruntung, profesinoal para kru mampu mengatasinya.

Sementara itu, Momen press conferense kemarin juga menjadi momen untuk mendoakan almarhum Didi Petet. Bagaimana suka duka yang di alami para pemain, kru dan orang-orang yang terlibat mampu membuat kami kembali mengenang bagaimana dahulu almarhum Didi Petet banyak memberikan inspirasi. Terutama kepada saya yang sangat suka film kabayan.

Untuk yang masih penasaran saya bantu dengan trailer di bawah ini. Terimakasih telah berkunjung. 🙂

Let's be friends:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *