Spread the love

Gue didiskualifikasi. Keputusuan gue menghampiri Dewi dengan cara terbang ternyata dinilai salah. Kalau diingat-ingat ngapain juga gue terabang menghampiri Dewi. Tentu ini tidak sama dengan tes yang pernah gue lalui sebelumnya. Seandainya ada cctv, mungkin akan berbeda.

Gue membuka kacamata 3d reality viar (Sejenis alat untuk masuk kedunia virtual). Mata gue menangis. Ini bukan kali pertama gue gagal. Ini sudah kesekian kalinya, atau kapan gue pernah berhasil memperjuangkan sesuatu itu terkesan akan lebih mudah dimengerti. Seperti biasa kesempatan yang diberikan dengan harga yang sangat mahal ini berakhir tanpa mendapatkan hasil apapun.

Gue masih berbaring. Tidak ada tenaga dan hasrat untuk berdiri. Gue mengingat setiap kejadian yang sudah gue lewati selama menjalani tes itu. Hasilnya, kemampuan menilai keadaan, respone, kemampuan menyelesainkan masalah, bahkan humor semua dibawah rata-rata.

Masih dalam keadan terpuruk. Panitia langsung menghampiri. Saat itu juga, gue diminta ke luar ruangan dan mencoba kembali tahun depan.

“Semoga beruntung!” Pungkasnya.

Celakalah gue.

Tes ini diadakan setahun sekali. Untuk berpartisipasi saja tidak mudah. Dari mulai proses pendaftaran, interview, simulasi kejadian, bahkan bisa sampai menjalani tes dengan masuk ke dunia virtual saja gue harus menipu semua umat manusia.

Kalau ada seseoarang yang penasaran mengenai bagaiaman gue bisa ikut hingga tahap menjalani tes pasti dengan senang hati akan gue ceritakan. Tetapi di era manusia dipenuhi dengan ego saat ini, siapa yang ingin mendengar hal itu. Kalau pun ada, mungkin itu hanyalah wanita bodoh seperti Bouchra. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah sadar. Kalau gue tidak mungkin bisa membawa kembali kakaknya yang hilang.

“Gimana, Kak?” Katanya heran.

“Aku menemukannya. Jika ingin membawa kakakmu kita harus menuggu tahun depan,” gue mengatakan hasil berpikir ratusan kali untuk menipunya.

“Kenapa harus tahun depan, Kak?”

“Aku tak bisa menjelaskannya di sini. Aku tak ingin mereka menangkap kita. Kamu harus berasabar. Tenang saja, seperti biasa. aku punya renaca,”

“Tapi…” Bouchra sempat ragu. Dari wajahnya gue paham. Ia sudah tak lagi bisa menahan kerinduan bertemu dengan kakak perempuan yang sangat ia sayangi.

Ada perasaan iba ketika gue menipunya. Namun, perasaan itu hilang karena rasa kesal terhadap sebuah kenyataan pahit. Bouchra adalah penipu terbaik. Gadis keturunan Tunisia yang berperawakan tinggi besar yang berhasil membuat semangat hidup gue kembali ini. Ternyata masih SMP. Dan gue tidak mungkin mencintai bocah SMP. Sial!

 

 

 

Let's be friends:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *