Spread the love

Suasana kelas berubah menjadi sangat menyeramkan. Apakah mereka semua manusia? Kenapa kaki mereka tidak ada yang menyentuh lantai. Bulu kuduk gue merinding. Kaki dan tangan gue gemetar. Mulut gue tak sanggup lagi berkata-kata. Mereka puas sekali. Sangat tidak nyaman. Rasa cemas ini mengingatkan gue pada kejadian pahit yang pernah gue alami. Kisah seorang murid yang membunuh gurunya.

Gue memejamkan mata. Bayangan kaki mereka yang tidak mengenai lantai terus menusuk pikiran. Gue khwatir setelah ini meraka akan menunjukan wajah asli mereka. Apakah mereka akan berubah menjadi hantu. Semoga tidak. Bagaimana jika mereka berubah menjadi mahluk alien. Gue rasa tidak. Tetapi jika mereka berubah menjadi wanita-wanita cantik dan berkata selamat datang di syurga. Mungkin gue akan mempertimbangkannya.

Gue keliru. Gue berpikir gue istimewa. Bayangkan saja, pertamakali gue datang gue bisa menghilangkan Dewi. Setelah itu, meski dibantu Roni gue bisa menghilangkan mahluk-mahluk kelas A. Kalau begini tidak ada bedanya dengan gue yang berada di sekolah sebelumnya. Padahal ketika pertama kali sekolah di sini gue sudah memutuskan akan menjadi orang yang berbeda.

Sepertinya kata yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan gue saat ini adalah “depresi”.

Gue kembali terpuruk. Lama-kelamaan mahluk-mahluk yang melayang itu tak lagi gue pedulikan. Sejenak, rasanya gue ingin lebih lama rebahan di lantai. Lagi pula kalau gue lari, mereka pasti mengejar. Terkadang mengatakan masa bodo pada masalah ini boleh juga.

Ah nyaman sekali. Gue merasa tidak ingin beranjak. Suara tawa dari mahluk-mahluk itu lama-lama menghilang. Sesekali, gue berbuat iseng. Gue mengintip disela-sela mata terpejam. Gue lirik, mereka masih memperhatikan gue tanpa melakukan apapun. Kalau saja ada tombol untuk mengaktifkan fitur pingsan gue ingin menekan tombol itu sekarang. Dan ketika bangun, mereka semua sudah tidak ada. Lalu gue bisa pulang dan minta pindah sekolah ke Emak. Pelan-pelan bibir gue tersenyum.

Satu persatu kejadian di masa lalu meminta dipikirkan. Kisah seorang murid yang membunuh gurunya. Kisah menyebalkan sekolah lama gue, bahkan kisah anak muda yang terpelesat di lantai lalu pura-pura push-up. Namun pikiran gue tentu tidak mengizinkan kisah flasback tersebut. Rasanya seperti akan membuang-membuang waktu. Daripada melakukan hal itu, mending gue makan kuaci. Sesekali gue melirik Dewi, gue lihat kakinya nempel di lantai. Gue bengong beberapa saat. Lalu tersadar dan kembali semangat.

Gue pun terbang menghampiri Dewi. Spontan teman-teman di kelas bingung dan bertanya-tanya. Gue biarkan saja. Bukannya sombong. Tetapi jawabbanya memang tidak berguna untuk mereka.

Let's be friends:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *